Oleh: totokpramujito | Februari 11, 2009

Background

Pelayanan sosial dipahami sebagai bagian dari karya pelayanan Tuhan yang paling imani, artinya pelayanan sosial adalah hal yang paling hakiki bentuk aktualisasi maksud dari ajaran Tuhan untuk mengasihi sesama manusia. Makna dalam pelayanan itu sendiri sebenarnya membawa misi nilai kemanusiaan dan nilai ke-Ilahi-an. Pokok Tri-Tugas gereja telah mengantarkan kita kepada konteks fakta permasalahan dunia yang akan bersangkut paut dengan peran dan posisi ketiga bagian tersebut untuk bersinergi dalam arti luas.

Masih ingat dalam ingatan akan Romo Mangunwijaya dengan karya pelayanan pastoral sosial yang salah satunya dikembangkan untuk komunitas warga pinggiran sungai code di Yogyakarta. Pada saat awalnya karya pelayanan Romo Mangunwijaya diera tahun 2000-an ibarat roh yang banyak memberi inspirasi karya pastoral di Indonesia tidak peduli pastor, bruder, suster, pendeta, mahasiswa theologia serta orang berjilbab, berpeci maupun awam sipil biasa, namun warisan semangat itu tidak lagi terlihat melihat lagi, entah mungkin muncul dalam versi lain yang tentu sangat dinantikan kehadirannya bagi kaum pinggiran.

Sebenarnya kita sadar bahwa setiap saat warga pinggiran itu menggapai-gapai butuh pertolongan dan mengharapkan untuk kita jamah, sesekali mereka menghibur namun banyak diantara mereka menangis terhimpit oleh krisis yang tidak tahu darimana asalnya. Pada akhirnya kita mengulurkan tangan untuk melayani mereka yang sangat lemah, lelah dan tidak berdaya itu. Ditengah kekumuhan dan bau itu sebenarnya ada permata hati ketulusan dalam melayani mereka diarus duniawi yang kuat walaupun sekedar berbagi, rasanya berat untuk mewarisi tugas pelayanan sosial tersebut karena apa yang dapat kita perbuat dimana secara kelembagaan biduk sudah berbalik arah kearah gelombang yang tenang dan tidak mungkin lagi kembali ke-arus itu, padahal dipusaran itulah sudah menelurkan sekian sarjana termasuk doktor.

Setelah kita renungkan sejenak, kami ajak masuk dalam ranah pemberdayaan sosial dengan seribu konsuekuensi tentunya. Secara umum komunitas layanan sebenarnya perlu dilihat berada dalam tahap mana mampu memenuhi syarat sosial sebagai bagian dari infrastruktur sosial, struktur kepengurusan, administrasi, aturan hak dan kewajiban warga kita pikir cukup.  Hanya saja untuk pemberdayaan ekonomi warga komunitas miskin di seputaran pinggir kali code mereka masih butuh pengharapan besar selanjutnya apa yang dapat kita lakukan. Seandainya maju sendiri pada akhirnya tentu akan konyol juga sehingga mau tidak mau perlu sedikit kerjasama dengan berbagai pihak tentu dalam batasan hubungan profesional (tidak ada kata coba-coba dan main-main). Sejarah menunjukkan kegagalan seperti kata Romo Mangunwijaya yang sangat puitis mengatakan memang karakter mereka bengkok-bengkok dan sudah karatan kalau diluruskan maka akan patah sia-sia yang dapat diselamatkan adalag generasi muda atau generasi berikutnya. Rentenir saja bisa bertahan mengapa kita tidak, kita tidak dapat menjawab kesulitan itu namun pasti ada jalan pemecahannya. Kemudian kita berfikir memang orang baik dan tulus biasanya dipersepsikan semua yang kita pinjamkan tidak ada bedanya dengan kata diberikan. Oleh karena itu kita meminjam tangan lain yaitu lembaga keuangan resmi dimana pola pergerakan mereka mirip dengan rentenir namun dibaliknya adalah kita ingin mengajari tentang n ilai tanggung jawab, kedisiplinan, kemandirian dan kita menjaminkan harapan itu untuk mengentaskan mereka. Disini orientasi pelayanan berubah dari charity menjadi empowerment, didepan mata sendiri kita menyaksikan kita dan Romo Mangunwijaya sudah berapa puluhkali ditipu oleh warga binaannya sendiri, bahkan melalui pendekatan komunitas dalam menyalurkan dana lewat koperasi mereka sekalipun juga tidak luput untuk disikat habis ……… Nah begitulah karakter asli warga pinggiran. Dalam pengentasan kemiskinan diwilayah binaan perkotaan kita sangat terinspirasi dengan rentenir dalam mengembangkan usaha kredit,  ruang akses PHBK Bank Indonesia ternyata plafon kreditnya masih diatas kemampuan minimal tingkat penyerapan dananya, untuk itu direkomendasikan bermitra dengan lembaga keuangan BPR. Pada akhirnya kita menemukan pola kredit harian melalui BPR Bhakti Daya Pakem (Bank Perkreditan Rakyat). Disini kita pernah berhasil menjadi emiten (penjamin kredit perbank-an) yang mendorong warga pinggiran dari kelas tukang menjadi majikan pada time-ing yang tepat pada saat puncak krisis ekonomi pasca reformasi dimana warga yang berjualan ban mobil mendapat kesempatan emas itu dapat berkembang sampai sekarang. Rasanya peluang untuk keberhasilan itu akan terulang lagi seiring dengan krisis global yang terus berkepanjangan sampai akhir 2009 ini.  Kita berinstrospeksi rasanya pernah dan berhasil menjadi emiten yang baik dalam mendampingi warga PKL di badran, PKL Asongan dan Komunitas  warga gereja kristen  di kawasan Condongcatur sampai tingkat penyerapan kredit-nya menyentuh 100 juta per-tahun. Namun kemudian berhenti teratur karena siklus kepengurusan Majelis Gereja harus berganti orang, berganti kebijakan sampai akhirnya berhenti………ti seiring dengan berubhnya issue permasalahan ditingkat lokalan. Kita masih melihat sejuta potensi dari warga binaan di perkotaan, sehingga kita tidak bisa bekerja sendirian – karena bagaimanapun mesti harus ada partner pelayanan yang saling menunjang target keberhasilan. Ditengah gerakan kerjasama dengan lembaga keuangan disisi lain kita juga berharap ada kemitraan untuk pelayanan sosial yang terpanggil untuk melayani mereka yang tersisih, tidak berdaya dan butuh uluran kasih dalam hal ini terlebih bagi para suster, bruder maupun pendeta atau siapa saja yang memiliki kepedulian pada pemulihan nilai-nilai kemanusiaan. Paling tidak pelayanan dapat dilakukan dalam bidang ekonomi maupun pastoral sosial. Kita mengharapkan mitra dari institusi sebagai partner yang profesional dan syukur-syukur  membawa bantuan yang dapat menunjang pengembangan nilai-nilai kemanusiaan.


Kategori

%d blogger menyukai ini: