Oleh: totokpramujito | Januari 25, 2012

Hakekat Gereja Yang Melayani

Tri Tugas Peran Gereja

Paradigma mengenai peran gereja di Indonesia masih perlu penegasan ulang, karena masih dipersepsikan dengan kebenaran tunggal, padahal kita hidup dalam pluralitas di Indonesia. Secara umum umat katholik di wilayah ini memang masih berhenti pada justifikasi atau berhenti pada hermenetika yang kaku bahwa urusan iman berbeda dengan urusan kepedulian sosial yang berkelanjutan. Untuk itulah maka perlu dibangun paradigma baru mengenai arah dan tujuan pelayanan gereja sebagai penegasan dari Tri Tugas Gereja yaitu Marturia, Kononia, dan Diakonia.

Walaupun sudah banyak contoh kaum pekerja gereja  lokalan yang sangat dikagumi seperti halnya Romo Mangunwijaya maupun seribu kisah para santa dan santo yang lainnya, rasanya tidak cukup berhenti pada cerita indah berbagai kisah pelayanan sosial mereka.Hermenetika menjadi bagian penting dalam memahami dan mempersepsikan keseimbangan pelayanan mimbardan pelayanan sosial terkadang menjadi tidak seimbang lagi (walaupun disadari seharusnya ada keseimbangan tiga tugas gereja itu).

Untukmembawa pada perubahan ini harus melalui berbagai kendala terutama faktor pemahaman generasi lama maupun pemahaman generasi muda yang belum memahami bagaimana peran gereja yang seharusnya. Paling tidak inilah setitik embun yang coba dikembangkan dilingkungan St Yohanes Puspaprima, bahwa esensi kepedulian sosial itu relatif, artinya tidak sekedar pelayanan yang charity saja tetapi ada pelayanan yang berkelanjutan baik kepada mereka yang dilayani maupun bagi mereka yangingin melayani secara berkelanjutan sebagai suatu panggilan moral.

Kepedulian itu sebaiknya diberikan kepada mereka yang termasuk tidak beruntung dalam keadaan : miskin, sakit-sakitan, tertindas, lemah oleh berbagai sebab, dst. Bila dikembangkan lebih luas dapat dinyatakan bagi mereka yang kesulitan pendidikan,kesulitan perekonomian, kesulitan akan hilangnya hak hidup yang tidak diakui dilingkungannya, dst yang sebenarnya hal ini banyak tersebar disekitar komunitas gereja ini ada.

Keprihatinan Bersama

Agar Gereja sungguh berperan untuk mewujudkan harapan tersebut, maka sebaiknya gereja membangun gereja yang dinamis yang selalu berubah, dari aliran ortodhoksi perlu diubah kearah ortopraxis, melalui empathy, simpaty, kepedulian sosial dan moralitas akan nilai-nilai kemanusiaan. Selama ini kita sudah berusaha untuk tidak mempraktekan theologi “kemakmuran” bahwa semua jemaatnya dianggap makmur namun kita butuh pemahaman theologi “pembebasan” yang melihat keseimbangan pelayanan Tri Tugas Gereja menjadi lebih penting artinya untuk diwujud nyatakan. Kepedulian sosial akan semakin meneguhkan sebagai gereja “ketimuran” yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaan, budaya dan hubungan sosial yang sangat mengagumkan. Namun kerap kali pula kita terseret oleh  paham pragmatisme juga. Memang mengubah keadaan tersebut secara normatif merupakan keharusan. Kita telah membangun kerjasama tersebut untuk bisa bekerjasama dengan berbagai komunitas yang saling dapat dikaitkan.

Momentum Natal setiap tahun memang menjadi moment yang sangat ditunggu-tunggu. Bila melihat konteks pemahaman pelayanan  sosial maka Tradisi memberi “Angpao” bagi komunitas yang kita layani perlu dirubah dengan memberikan “kail/jala”.  Hal ini tentu saja akan menjadi sumber inspirasi baru bagi Tradisi di Lingkungan St Yohanes Puspaprima tentunya.

Momentum Natal 2011 kali ini kita mencoba hal tersebut dengan desain kegiatan yang melibatkan seluruh jemaat, tidak boros dan menyisakan sebagian anggaran untuk kepedulian sosial. Kita berharap mereka yang akan kita layani ini akan mendorong spirit baru, mendorong minat untuk rela berkorban, meresapi suka cita sekaligus meresapi makna dari “Salib” yang menjadi tanda kemenangan itu. Untuk itulah keberadaan gereja di tengah masyarakat harus berdampak, menjadi garam dan terang dunia. Apakah gereja sudah menjalankan peran tersebut dalam masyarakat ?

Bagaimanapun kondisi kita patut kita syukuri, bila dibandingkan dengan gerakan gereja mula-mula. Saat itu gereja terus menerus mendapat penganiayaan. Namun gereja bangkit karena gereja memiliki fungsi sebagai saluran berkat, sehingga simpati dan kepedulian sosial ini menjadi suatu gerakan iman. Dengan tindakan dan perbuatan umat kala itu, mereka pun semakin disukai masyarakat. Secara otomatis, Tuhan pun akan semakin menambahkan jumlah mereka. 

Gereja hendaknya bisa menjadi berkat bagi lingkungan di sekitarnya. Namun, kenyataannya, jauh panggang dari api. Kehadiran gereja justru dianggap sebuah ancaman bagi kelompok masyarakat tertentu. Situasi seperti ini jelas rentan konflik. Lalu bagaimana gereja menjadi berkat bagi bangsa ? Sebaiknya memang gereja menyatu dengan lingkungannya dalam arti tidak atau jangan memisahkan diri dengan alasan pembenaran apapun, karena kehadiran gereja bukan dimaknai hadirnya bangunan megah atau komunitas yang tertutup tetapi gereja yang terbuka bagi siapa saja. Dengan demikian maka gereja juga harus menjalankan misi kemanusiaan. Artinya, gereja harus punya kepedulian sosial. “Ketika ia hadir untuk kemanusiaan, itu menunjukaan gereja yang hidup. Gereja hendaknya ada sebagai bagian dari komunitas bangsa ini, karena secara langsung atau tidak gereja ikut menentukan arah bangsa. Di sini gereja harus benar-benar berubah dan mentranformasi diri, menata dan menempatkan kembali seperti tugas gereja mula-mula. Gereja jangan memprioritaskan pelayanan internal jemaatnya semata, tetapi itu gereja harus berani lebih terbuka menyatakan kehadirannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan habitusnya. 

Apakah gereja memiliki kepedulian bilamana dalam keadaan terjepit ? Nah, hal inilah yang perlu dihindari sebagiknya gereja tidak perlu menunggu ada kejadian baru berbuat baik, tetapi berbuatlah baik dari sekarang. Tidak etis juga gereja melayani dalam keadaan kondusif, dengan demikian maka peran dan fungsi gereja itu sebaiknya dijalankan setiap waktu dalam keadaan apapun.


Kategori

%d blogger menyukai ini: