PENGENTASAN ANAK JALANAN

Kampus Duta Wacana bukanlah kampus elit eksklusive tetapi kampus yang humanis sebagai basis gerakan sosial kemanusiaan yang peduli dengan kaum miskin kota termasuk juga peduli dengan anak jalanan yang selama ini menjadi fenomena sosial yang muncul sebagai akibat kesalahan manajemen pembangunan nasional. Dampak positif pembangunan memang ada dan terasa namun dampak negatif juga ada dan terasa bahkan perkembangan jumlah anak jalanan diberbagai kota semakin besar. Kehadiran anak jalanan yang semakin besar jumlahnya dirasakan tentu saja semakin mencemaskan karena mereka adalah asset bangsa yang terabaikan yang bersasal dari desa maupun dari kota lain, hidup mereka susah, tercampakkan oleh situasi sehingga tidak berdaya yang bermimpi  menjadi manusia walaupun terdampar di perkotaan yang selama ini dikenal sebagai pusat pertumbuhan nasional. Anak jalanan bukan saja menggangu pandangan mata, ketertiban umum , mengganggu keamanan serta keindahan kota….. bukan itu maksudnya tetapi kehadiran mereka mengundang keprihatinan kita bersama bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa yang sudah kelihatan mata sebagai gembel.  Pemerintah sepertinya tidak lagi peduli kecuali menjadikan mereka object dari project, begitu pula dengan kalangan LSM terkadang membuat shelter-shelter yang justru semakin mengkondisikan keadaan untuk kelangsungan hidup dijalanan. Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap pengentasan anak jalanan, pemerintahkah, LSMkah, Gerejakah, Pondok Pesantren atau siapalagi.

Dari hasil pengamatan sekilas dari penulis di Yogyakarta merasakan bahwa prosentase jumlah anak jumlah anak jalanan jauh lebih hanyak walaupun beda tipis pemahaman kita antara anak jalanan dengan gelandangan dan pengemis. Mereka ini biasanya mangkal di sepanjang perempatan / traffic light yang ada di pusat-pusat kota dan menghuni secara komunal di tempat-tempat umum maupun tempat-tempat khusus diseputaran kota.

Pemerintah kota yogyakarta dengan berbagai kebijakan pemerintah dalam menangani anak jalanan telah dilakukan dengan berbagai cara penanganan, antara lain dengan memasukkannya ke “rumah singgah”, tempat-tempat pelatihan, serta dengan memberi bekal ketrampilan kepada mereka. Upaya penanganan anak jalanan juga dilakukan secara preventif dengan harapan agar jumlah anak jalanan dapat berkurang.  Namun dalam kenyataannya jumlah anak jalanan yang melakukan kegiatan di jalan tidaklah berkurang, bahkan mereka yang telah ditangani akan kembali lagi ke jalan atau berpindah tempat menjadi anak jalanan di tempat lain. Berdasarkan permasalahan anak jalanan dan belum efektifnya kebijakan penanganan anak jalanan oleh Pemkot yogyakarta tersebut, maka perlu dilakukan kajian untuk menganalisis Kebijakan Pemkot Yogyakarta dalam menangani anak jalanan semacam ini. UKDW terpanggil untuk merubah keadaan dengan pendekatan yang lain lagi artinya akan mencangkokkan konteks keberhasilan warga binaan yang sebelumnya adalah kaum gembel dan sekarang menjadi pengusaha sukses akan kita tempelkan anak jalanan ini memakai frame dan cara mereka dibidang entepreneurship. Dengan kata lain bahwa sebenarnya kunci keberhasilan mereka ada pada jaringan kerja yang kita persiapkan. Disini kita memiliki hubungan baik dengan pemerntah kalurahan, kemitraan dengan perbankan, psikolog pusat pengembangan pribadi, praktisi ekonom yang peduli dengan kondisi anak jalanan dan pendekatan sosiatrik dari penulis sendiri. Kita tidak merasakan keraguan untuk penanganan program itu hanya saja kita memiliki keterbnatasan itu pasti bahwa mereka yang berjumlah besar tidak dapat kita kendalikan sendirian maka kita akan melibatkan semua pihak yang masih dalam jangkauan kita antatra lain adalah komunitas mahasiswa peserta studi orientasi sosial, mahasiswa volunteer, komunitas masyartakat setempat dst. Hanya saja memang ada kseulitan tersendiri menangani anak jalanan yang sudah dalam kategori “deviant” yang sudah menanggalkan norma dan aturan kebiasaan beretika dalam kehidupan bermasyarakat secara normal. Kondisi ini kita maklumi karena mereka lebuih senang mengadopsi kebiasaan-kebiasaan selama mereka hidup di jalanan yang cenderung sering menolak kehadiran mereka sehingga tingkat kecurigaannya sangat tinggi dan ini dapat mengarah kepada gangguan kejiwaan yang terjadi secara simtom.

Tujuan dari pelayanan ini adalah untuk mengentaskan anak jalanan yang ada di Kota Yogyakarta sesuai dengan karakter SDM, karakter usaha dan karakter pasar. Dengan mengetahui karakteristik anak jalanan diharapkan lembaga pendidikan, pesantren, biro konsultasi psikologi, sekolah, dan rumah singgah yang ada di Yogyakarta akan mampu melakukan pengentasan secara tepat.

Program khusus untuk menangani masalah anak jalanan tersebut memang sejauh ini bersifat independent  (artinya ada atau tidak ada mitra akan tetap berjalan terus) dan secara kebetulan mendapat chanel program dari EXCEED yang menangani program UNICEF. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan pendataan terhadap anak jalanan sesuai karakteristiknya, dilakukan pendekatan khusus kepada para anak jalanan agar mereka mau diberi pembinaan dan mencari solusinya melalui pendekatan self determinity (artinya merekalah yang akan menjadi penentu utamanya).

Memberikan motivasi dan pembinaan sesuai dengan kebutuhan anak jalanan bukanlah hal yang gampang tetapi juga bukanlah hal yang sulit. Biasanya anak jalanan terpaksa turun ke jalan karena himpitan ekonomi keluarga atau alienasi lingkungan sosial sehingga perlu dilakukan pendekatan psikologis karena mereka sudah melupakan aspek dasar kehidupan sosial yang sarat dengan norma dan kebiasaan masyarakat disekitarnya. Disisi lain mereka perlu diberikan bekal keterampilan yang benar-benar bisa digunakan untuk berwiraswasta (hal ini akan menjadi sulit kalau diperankan kita maka mereka kita kirim magang kepada warga binaan kita yang sudah sukses). Sedangkan bagi yang turun ke jalan karena masalah keluarga dan ikut-ikutan teman, dilakukan pendekatan secara mental spiritual agar bisa menjadi pribadi yang kuat apalagi yang terpapar kasus narkoba.  Bagi anak jalanan yang masih termasuk usia sekolah harus dikembalikan ke sekolah dengan pembebasan biaya sekolah. Namun mereka juga tetap diberi pembinaan agar memiliki keahlian untuk berwiraswasta.
Perlu peningkatan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang kebijakan penanganan masalah anak jalanan. Perlu diberikan modal kerja awal, dan dilakukan pendampingan agar usaha yang dirintis bisa berhasil. Fenomena sosial yang muncul sebagai akibat kondisi perekonomian saat ini salah satunya adalah perkembangan jumlah anak jalanan diberbagai kota besar. Kehadiran anak jalanan yang semakin besar jumlahnya dirasakan semakin mencemaskan, karena disatu sisi dapat menimbulkan dampak negatif bagi penertiban, kebersihan dan keamanan, serta keindahan kota. Di sisi lain apabila jumlah anak jalanan semakin besar maka semakin besar pula jumlah masyarakat yang menjadi tanggungan masyarakat dan pemerintah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Sosial dan 15 Rumah Singgah yang ada di Yogyakarta hasilnya sangatlah mengejutkan. Prosentase jumlah anak jumlah anak jalanan jauh lebih hanyak bila dibandingkan dengan jumlah gelandangan dan pengemis. Mereka ini biasanya mangkal di sepanjang perempatan / traffic light yang ada di pusat-pusat kota.

Di kota Yogyakarta, berbagai kebijakan pemerintah kola dalam menangani anak jalanan telah dilakukan dengan berbagai cara penanganan, antara lain dengan memasukkannya ke “rumah singgah”, tempat-tempat pelatihan, serta dengan memberi bekal ketrampilan kepada mereka. Upaya penanganan anak jalanan juga dilakukan secara preventif dengan harapan agar jumlah anak jalanan dapat berkurang. Namun dalam kenyataannya jumlah anak jalanan yang melakukan kegiatan di jalan belumlah berkurang, bahkan mereka yang telah ditangani akan kembali lagi ke jalan atau berpindah tempat menjadi anak jalanan di tempat lain. Berdasarkan fenomena anak jalanan dan belum efektifnya kebijakan penanganan anak jalanan oleh Pemkot Yogyakarta tersebut, maka perlu dilakukan kajian untuk menganalisis Kebijakan Pemkot Yogyakarta dalam menangani anak jalanan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik anak jalanan yang ada di Kota Yogyakarta. Dengan mengetahui karakteristik anak jalanan diharapkan lembaga pendidikan, pesantren, biro konsultasi psikologi, sekolah, dan rumah singgah yang ada di Yogyakarta.  Program khusus untuk menangani masalah anak jalanan tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik anak jalanan yang ada. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan pendataan terhadap anak jalanan sesuai karakteristiknya. Kemudian dilakukan pendekatan khusus kepada para anak jalanan agar mereka mau diberi pembinaan. Memberikan motivasi dan pembinaan sesuai dengan kebutuhan anak jalanan. Bagi yang turun ke jalan karena himpitan ekonomi keluarga, perlu diberikan bekal keterampilan yang benar-benar bisa digunakan untuk berwiraswasta. Sedangkan bagi yang turun ke jalan karena masalah keluarga dan ikut-ikutan teman, dilakukan pendekatan secara mental spiritual agar bisa menjadi pribadi yang kuat.  Bagi anak jalanan yang masih termasuk usia sekolah harus dikembalikan ke sekolah dengan pembebasan biaya sekolah. Namun mereka juga tetap diberi pembinaan agar memiliki keahlian untuk berwiraswasta.

Pengentasan anak jalanan tidak boleh setengah-setengah artinya program ini harus berani mencabut akar permasalahan dan mengambil resiko bahwa mereka sensirilah yang akan mentntukan nasib mereka sendiri. Hal ini perlu ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang penanganan masalah anak jalanan. Perlu diberikan modal kerja awal, dan dilakukan pendampingan agar usaha yang dirintis bisa berhasil. Sedangkan pengawasan atau ada follow up dari pembekalan yang diberikan yang mengarah anak jalanan tersebut sudah bisa hidup mandiri dan memastikan apakah mereka turun ke jalanan lagi perlu juga dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak terkait.
Dengan demikian maka akan ada jaminan keberlangsungan hidup sehingga mereka tidak lagi turun ke jalanan.

Yogyakarta, Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: