SOCIOPRENEURS

Ada satu nilai yang menjadi predikat UKDW adalah sebagai kampus elite yang sangat peduli dengan kaum miskin, kaum tersisih yang sudah termateraikan di mata publik. Ada satu kebanggaan bahwa UKDW bukan kampus kerakyatan tetapi kampus yang akses sosiopreneurs-nya merakyat. Hal ini semakin dipertegas dengan dicanangkannya harapan besar untuk mewujudkan impian mewujudkan gerakan multikulturism melalui pengembangan sosiopreneurs dalam perencanaan detail sistem pengoperasiannya, trend menggarap sistem kebudayaan sebagai gerakan budaya ini sangatlah tepat dan menarik dilakukan dikota pelajar, kota kebudayaan dan kota pariwisata “Yogyakarta” karena akan dijumpai semacam mozaik pendidikan sebagai aksen budaya yang dikemas dalam sociopreneur profesionalism menuju perubahan berbasis fakta sosial yang tidak berdiri sendiri yang mengarah kepada pertautan sosial yang saling bertali temali. Begitu juga dengan topik pertautan sosial budaya diatas dipahami sebagai suatu kajian empiris yang tidak ringan, karena untuk mengkaji satu budaya saja butuh perhatian ekstra apalagi latar belakang budaya mahasiswanya sangat multi culture yang akan dibahas dan diintegrasikan kedalam sistem pengajaran tidak dapat diselesaikan sendirian karena dunia multikulturism dan sosiopreneurs sangatlah luas. Kerjasama dengan berbagai pihak tentunya menjadi penting sebagai basis gerakan pendidikan di Universitas Kristen Duta Wacana. Dukungan tersebut perlu diwujudkan dengan mengoptimalkan pusat study yang ada untuk bersentuhan langsung dengan trend kebudayaan yang mengkaji sistem perubahan sosial dan kaitannya dengan dunia pendidikan (perlu kajian epistemologis perguruan tinggi diposisikan sebagai variabel bebas atau terikat sehingga mampu memposisikan sebagai self determination sampai seberapa jauh kekuatan perguruan tinggi dalam mempengaruhi ranah sosial yang ada) hingga diharapkan sebagai back-up program konfigurasi budaya secara berkelanjutan tidak menjadi fatamorgana tetapi menjadi kontekstualisasi nilai edukasi sosial secara bertahap. Disisi lain juga dijumpai irisan-irisan kepentingan dalam sociopreuneurs yang berhubungan dengan implementasi edukasi sosial, socio building dan  pemberdayaan masyarakat, ini kaitannya dengan sistem mobilisasi sosial melalui kegiatan terstruktur semisal KKN dengan bidang garapan sosial yang khusus bagaimana mahasiswa mampu berperan sebagai akselerator dalam pemberdayaan masyarakat.

Gerakan Multikulturism

Saat ini dunia pendidikan sudah semakin familier dengan trend kebudayaan baru yang menggarap sociopreuneurs, sehingga harus siap untuk membuka dan mempersiapkan diri sedemikian rupa sebagai suatu cara untuk mengantisipasi terhadap arus perubahan global yang begitu cepat dewasa ini. Pendekatan yang  biasa dilakukan mengacu kepada pengelolaan modal sosial, budaya lokal, kearifan lokal, tradisionalism seluruh konteksnya sudah berubah dan tidak sesuai lagi sehingga harus dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya baru, karena kajian budaya selama ini masih berhenti pada pemahaman simbolik atau hitam-putihnya perubahan sosial budaya. Kalaupun seandainya kajian kebudayaan yang sangat plural itu menghasilkan  suatu rekomendasi perubahan, dampak perubahannya masih sangat bersifat lokal. Dengan demikian dibutuhkan suatu kajian ilmiah lintas budaya atau multiculture yang diharapkan akan mempunyai dampak kekuatan pengaruh yang lebih luas.

Terminologi kajian multiculture sangat erat relevansinya dengan sistem sosial budaya, dimana dipahami sebagai suatu kompleksitas sosial budaya yang didalamnya membentuk struktur sistem, disini terdiri dari banyak kultur sosial yang beragam dan saling berpengaruh sebagai suatu kohesi sosial yang kompetitif tetapi terintegrasikan berbagai kepentingan mereka (social interest) sehingga terjadi suatu keseimbangan sosial yang dinamis. Tidak dipungkiri lagi percepatan perubahan sosial dalam konteks situasi sekarang sifatnya fluktuatif yang setiap saat bisa saja kondisinya berubah drastis dan sangat dipengaruhi oleh kekuatan struktur sosial yang internal maupun kekuatan eksternal. Guna mencermati fluktuasi sosial budaya dalam masyarakat maupun akibat pengaruh dari luar budaya mereka. Sehingga dibutuhkan suatu metodologi, refrensi, standart atau ukuran pemahaman yang dapat mewakili keadaan untuk dapat dijadikan suatu pedoman analisa sejauh mana tingkat kekuatannya dalam suatu sistem sosial tersebut, sehingga disini butuh suatu pemetaan awal tingkat kekuatan sistem sosial tersebut :

1.      Kompleksitas sistem sosial makro sebagai bentuk fakta sosial secara utuh guna mengkerangkai dan menyatukan persepsi pandangan sosial budaya

2.      Memahami sistem sosial budaya lama dan baru dan motive-motive dasar, variabel perubahan, faktor kohesi sosial yang menyebabkan keadaan berubah sebagai dasar hipotesa seberapa tingkat kekuatan sosial tersebut (analisa parsial). Disini fokus uraian sistem sosial yang kelihatan dinamis perlu dibongkar sejauh mana mampu mempengaruhi sosial budaya, dimana relevansi dan kontekstualisasinya bagi kita sehingga mampu merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya yang baru.

3.      Menentukan strategi yang akan dikembangkan oleh perguruan tinggi melalui program pendidikan yang menekankan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan etnik dan keragaman budaya (cultural diversity).

Dari sisi teorisasi kajian sosial budaya dalam hal ini memang harus dilakukan oleh orang yang punya latar belakang kompetensi yang kuat dengan disiplin ilmu sosial, karena cakupan bobot bahasan cakupannya luas walaupun di Universitas Kristen Duta Wacana sifatnya komplementer untuk mengapresiasi sosial budaya kedalam berbagai disiplin ilmu yang ada. Paling tidak diharapkan konteks bidang kajiannya tepat bila dilakukan suatu pemikiran yang intens untuk menemukan kontekstualisasi bidang socio preuneurs di Universitas Kristen Duta Wacana.

Kompleksitas Sistem Sosial Makro

Sistem sosial merupakan gabungan dari banyak sistem yang hidup dan saling mempengaruhi didalamnya terdiri dari banyak sistem (ekonomi, politik, sosial, budaya, dst). Dengan demikian maka sistem sosial tidaklah berdiri sendiri tetapi merupakan hasil kohesi sosial dalam proses perubahan sosial. Dalam proses identifikasi tidaklah berbeda dengan sistem politik yang mampu mempengaruhi terhadap sistem sosial, ekonomi dst, begitu juga sistem sosial mampu mempengaruhi sistem politik, ekonomi dst.

Menengarai sistem sosial makro sama halnya mengamati proses globalisasi yang sebenarnya tidak lain sebagai sebuah hasil perubahan sistem sosial budaya secara makro lengkap dengan tata nilai, sistem dan etika peradaban baru yang sedang berlangsung. Memang globalisasi merupakan metamorfosa imperalisme baru terutama dalam bentuk ideologi baru yang bernama kapitalism dengan segala macamnya yang serba baru bukan dalam bentuk kekuatan militer tetapi melalui kekuatan nyata sampai yang kasat mata misalnya melalui trend ekonomi, sosial dan politik kalau diistilahkan menurut persepsi pemahaman kita pada saat ini telah terjadi penetrasi sosial, budaya, politik dan kekuasaan yang tidak seimbang dan diibaratkan sebuah pertarungan ideologi antara ideologi barat (sarat dengan motive dan nilai-nilai kapitalism yang arogan/menghalalkan segala cara) dengan segala kelebihannya melawan ideologi timur (sarat dengan motive dan nilai-nilai tradisionil yang harmoni sehingga estetika dan etika harus selalu dijaga) lengkap dengan segala kekurangannya serta ketidaksiapannya tampak nyata sedikit demi sedikit terlibas habis. Secara global ada beberapa pengaruh besar yang berasal dari kekuatan negara maju blok amerika, blok eropa, blok australia sedangkan blok timur tengah, afrika dan asia merupakan blok sasaran empuk dengan jumlah penduduk yang besar (china, india, indonesia). Globalisasi tidak bisa dielakkan walaupun irama perubahan sosial budaya didalamnya berlangsung secara cepat, namun bilamana tidak disertai dengan berbagai kesiapan sehingga dampaknya akan menimbulkan kesenjangan (social loss) yang sangat luar biasa. Ketidak mampuan diri untuk mengantisipasi perubahan tersebut menyebabkan terjadinya sosial miss management dalam bentuk ketidakmampuan sosial akibat ketertinggalan dalam percepatan atau lompatan budaya yang begitu lebar tersebut. Disadari bahwa sistem sosial domestik yang ada sejauh ini sifatnya masih sangat tradisional berbeda sama sekali dengan sistem sosial baru yang namanya sistem global sehingga perlu suatu pemikiran baru bahwa perubahan sosial sangat dipengaruhi oleh mind sistem, mind frame, mind set and attitude. Memang variabel untuk mengukur tingkat pencapaian dibidang sosial masih sulit dan hanya dapat dilihat dari produktifitas sistem sosialnya apakah ada banyak varian baru yang ikut dalam mempengaruhi proses perubahan sosial. Keseimbangan sosial yang dinamis itu perlu tetapi kalau terjadi ketidak seimbangan maka akan menghasilkan suatu ketimpangan, sehingga setiap perubahan harus dierttai dengan kesiapan sumberdaya manusianya. Dominasi suatu sistem terhadap sistem sosial yang lainnya juga tidak bagus karena rentan dan beresiko tinggi terhadap suatu perubahan ekstreem misalnya dominasi politik terhadap sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem budaya tidak banyak untungnya karena sifatnya sementara dan bisa berakibat mematikan produksi sosial. Di Indonesia pemahaman terhadap perubahan sosial pasca reformasi dinamikanya cukup menarik dan prospeknya bagus walaupun tingkat pencapaiannya cenderung stagnant, begitu juga dengan peran dunia pendidikan yang sebelumnya cenderung passive permisive, saat ini cukup responsif. Disisi lain index kualitas pendidikan dianggap sebagai faktor pengaruh yang kuat kontribusinya terhadap perubahan sosial sehingga diperlukan suatu pendidikan inklusi yang sifatnya spesifik dan mendasar untuk dapat menjawab permasalahan tersebut. Keadaan ini butuh suatu perencanaan sosial yang baik sebagai suatu akselerasi pada jalur yang semestinya sehingga manajemen sosial budaya yang didalamnya dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang ditempatkan sebagai dasar pengelolaan suatu asset sosial budaya. Perubahan sosial akan mempunyai pola sosial yang dipersepsikan menjadi suatu tradisi yang merupakan ungkapan tatanan kehidupan yang tidak hanya menimbulkan tatanan estetika dan etika dalam setiap karya namun juga mengandung pandangan hidup, tata nilai dan identitas diri, serta dapat mempertemukan berbagai budaya dan masyarakat dalam suasana yang damai sehingga timbul rasa menghargai terhadap keanekaragaman budaya serta menumbuhkan keluhuran budi dan mudah toleransi.

Perguruan tinggi cukup tepat keberadaannya untuk mengapresiasi serta mengaplikasikannya terhadap sistem kebudayaan yang diharapkan perguruan tinggi mempunyai kontribusi dalam mempersiapkan sumber daya manusia dalam proses perubahan sosial bagi para lulusan peserta didik. Pengembangan sumber daya manusia melalui pengembangan sociopreuneurs dalam ruang ilmu yang bukan ranah ilmu sosial agaknya cukup relevan dengan kondisi sekarang. Paling tidak diharapkan para lulusan peserta didik mempunyai ciri khas yang tahu dan kenal sosial budaya mereka sebagai suatu asset yang sangat bernilai sebagai strategi umpan balik strategi kebudayaan yang dikembangkan untuk menyongsong perubahan waktu kedepan. Topik ini memang menarik untuk dibahas dimana pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pedagogik. Pendekatan ini digunakan untuk membahas bagaimana mengasuh, membesarkan, dan mendidik peserta didik melalui pendidikan multikultural sedangkan kaitannya dengan didaktik dan metodik sebaiknya dibahas secara tersendiri.

Titik singgung perguruan tinggi terhadap dinamika perubahan sistem sosial budaya disini paling tidak mampu menempatkan mahasiswa serta para lulusan peserta didik diharapkan mampu membaca kondisi sosial budaya suatu masyarakat serta mencari relevansi, kontekstualisasi dan merevitalisasi nilai-nilai luhur sistem kebudayaan yang sangat beragam. Posisi mereka cukup strategis sebagai akselerator perubahan sosial yang mampu mengenal dan menganalisa sistem sosial budaya mereka sehingga fakta sosial yang ada akan harmonis dalam suatu gabungan sistem sosial budaya mereka sebagai entitas budaya peradaban manusia.

Pandangan untuk menggarap socio preuneurs dalam hal ini kita refrensikan dari teori yang dikembangkan oleh Berkson yang melihat bahwa masyarakat sangatlah cair yang terdiri dari individu-individu dengan keberagaman latar belakang agama, etnik, bahasa, politik, budaya, dst memiliki hak untuk mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis. Teori ini sama sekali tidak meminggirkan identitas budaya tertentu, termasuk identitas budaya kelompok minoritas sekalipun. Bila dalam suatu masyarakat terdapat individu pemeluk agama Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, maka semua pemeluk agama diberi peluang untuk mengekspresikan identitas keagamaannya masing-masing sekaligus mampu melibatkan dan mengembangkan diri secara dinamis dalam perubahan global. Individu dalam suatu masyarakat berlatar belakang budaya Jawa, Madura, Betawi, dan Ambon, misalnya, maka masing-masing individu sangat berhak menunjukkan identitas budayanya, bahkan dimungkinkan melakukan revitalisasi tata, nilai, aturan baru sebagai tahap perkembangannya. Masyarakat yang menganut teori ini biasanya kaum pluralis yang terdiri dari individu yang sangat pluralistik, sehingga masing-masing identitas individu dan kelompok mampu secara dinamis dapat hidup berdampingan membentuk mosaik sosial yang indah.

Makalah ini mencoba menilik berbagai fakta sosial secara relatif dalam masyarakat dari perspektif sosiologi, psikologi sosial, untuk melengkapi kajian dari perspektif keilmuan lainnya mengenai multikulturalisme. Tekanan perbincangan multikulturalisme sifatnya masih persepsional atau sangkaan yang sifatnya memiliki atribusi penting terhadap intoleransi, kebencian (hatred), permusuhan (enmity) dan kekerasan (violence) antar-kelompok dalam masyarakat multikultur. Kita juga akan lebih berfokus pada angle teoritis, karena menyadari bahwa seminar ini merupakan forum pematangan gagasan untuk merancang program Kajian Multikultural yang akan digarap secara intens di Universitas Kristen Duta Wacana.

Memahami Dinamika Sistem Sosial Budaya

Perubahan cepat sosial budaya dalam era globalisasi pada saat ini pada prinsipnya akan mempengaruhi tata, nilai dan aturan dalam sistem sosial budaya masyarakatnya. Pembaharuan sistem tata, nilai dan aturan dalam sistem sosial paling tidak menjadi suatu kebutuhan untuk mengikuti trend perubahan global tersebut. Paling tidak kata revitalisasi tata nilai, aturan baru akan selalu diperlukan untuk menjawab kepentingan-kepentingan sosial yang relevan untuk sekarang ini. Selama ini kita mengharapkan perubahan yang mendasarkan pada tata nilai sosial budaya tradisionil ternyata hanya akan berputar pada romantisme yang tidak memberikan harapan apapun. Disini dibutuhkan suatu kesadaran sosial secara kolektif dalam proses perubahan yang tidak mengenal sentimen budaya, nilai, etika, dst tetapi sentimen kepentingan lebih menjadi suatu prioritas dan jawaban atas konteks kebutuhan sosial yang baru. Semestinya dinamika atau proses perubahan sosial budaya yang harmonis dilakukan secara bersama-sama sehingga suatu kemunduran bila ada dominasi yang berlebihan. Dominasi berlebihan kita maksudkan dalam hal ini akan mengorbankan sistem yang lain misalnya dominasi politik yang cenderung arogan atas sistem sosial dan ekonomi, maka berdampak pada sistem produksi sosial dan ekonomi rendah (contoh negeri gajah putih). Demikian juga dengan dominasi ekonomi yang cenderung berlebihan walaupun jaminan sosialnya tinggi tetapi partisipasi/ legitimasi politiknya rendah (contoh negeri singapura). Sedangkan untuk negeri Indonesia sistem politik lebih dominan tetapi sistem produksi sosial, ekonomi tidak jelas (terkadang bagus, sesaat hancur, tumbuh lagi) sementara barang-barang import mendominasi, sehingga semua barang kebutuhan tersedia tetapi kemampuan daya belinya rendah. Saatnya refleksikan kembali keberhasilan negara barat tetapi dalam menjaga kestabilan sosial politik biasanya dilakukan melalui suatu perubahan besar semacam revolusi (konotasi positive) misalnya revolusi sosial, politik, ekonomi, dst (sepertihalnya deklarasi Pan-Americanism yang bersifat ekspansif pada tahun 1896 menghasilkan negara superpower, begitu juga dengan revolusi damai jerman bersatu, reformasi jepang dalam bidang ekonomi dimulai dengan restorasi Meiji pada tahun 1868 telah menjadi negara modern, begitu juga dengan revolusi industri perancis, inggeris dst, revolusi sosial ala brasil menempatkan brasil sebagai negara yang demokratis, revolusi budaya di china menempatkan sebagai the dragon asia dibidang ekonomi), Kuncinya adalah satu dimana setiap perubahan harus dilakukan secara total yaitu bagaimana membangun kepercayaan, menjaga kestabilan politik dan ekonomi sebagai modal dasar untuk menumbuhkan semangat perubahan. Dampak perubahan di Indonesia sama sekali sangat terasa, hal ini dikarenakan proses reformasi dilakukan setengah hati, tercabik-cabik ditengah jalan akibat korupsi, sehingga praktis tidak berdampak sama sekali terhadap tata kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Pengertian budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia (tata nilai, aturan dan tindakan). Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Konsisten dengan pengertian tersebut semestinya sistem sosial di Indonesia menganut aliran tersebut, namun sementara ini kata budaya atau bahkan kata sosial budaya cenderung diartikan sebagai budaya simbolik (warisan, artefak) bukan persepsi fungsional sebagai sebuah hasil pemikiran atas akal budi manusia bersifat cair/ dinamis. Kondisi ini berpengaruh pada tingkat pemahaman sistem sosial budaya yang cenderung statis karena pemahaman atas budaya masih dipahami terlalu kolot (sulit menerima kebudayaan baru). Akibatnya maka terjadi penetrasi budaya telah mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial budaya yang cukup luar biasa pertarungan edeologi tanpa bufer (pengaman). Kebijakan negara yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, mengabaikan pembangunan sumber daya manusia serta sistem politik yang basa-basi tidak memperhatikan kepentingan publik bahkan ditengarai unsur legislatif dan eksekutif melakukan tindakan korupsi, maka tidak ada yang bisa diharapkan lagi untuk bisa membendung arus globalisasi. Kondisi tersebut diperparah oleh tidak adanya konsistensi mata rantai sistem ekonomi, sistem politik dan sistem sosial, karena terjadinya korupsi akibat politisi main mata dengan politisi sehingga tidak mengenal kontrol sosial.

Tekanan sosial budaya sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur kebudayaan, beberapa pendapat ahli antara lain Melville J. Herskovits mengemukakan bahwa kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu alat-alat, teknologi, sistem ekonomi keluarga dan kekuasaan politik. Sedangkan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya organisasi ekonomi alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) organisasi kekuatan (politik). Sedangkan bentuk budaya menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga bagian sebagai berikut : (1). Ide atau gagasan sebagai wujud ideal sosial budaya adalah dalam hal ini berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, aturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud sosial budaya ini terletak dalam kepala-kepala atau di-alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari sosial budaya ideal itu berada dalam karangan pencetus ide perubahan sosial budaya masyarakat tersebut. (2). Aktivitas dipahami sebagai wujud tindakan sosial budaya yang berpola dalam suatu masyarakat itu. Hasil dari gagasan ini menghasilkan sistem sosial yang terpola atau membudaya yang sarat akan nilai, aturan, tindakan dan etika. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. (3). Warisan budaya dipahami sebagai wujud warisan sosial budaya dalam bentuk fisik yang berupa kebendaan sebagai hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam suatu masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud sosial budaya adalah dalam bentuk karya fisik sosial budaya. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud sosial budaya yang satu tidak bisa digeneralisasikan atau terstandardisasi sehingga sifatnya relative. Sebagai contoh: bentuk sosial budaya ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Pemahaman sosial budaya dalam sudut pandang nonmaterial dipahami sebagai ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, pola-pola sosial, motive-motive perubahan sosial budaya, tata aturan dan nilai serta manifestasi budaya dalam bentuk dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional sebenarnya semuanya sudah bersifat sistemik tetapi tidak dinamis. Kondisi sosial budaya yang hidup dalam masyarakat diartikan sebagai suatu karya seni atau kesenian biasanya sarat akan nilai dan aturan sosial budaya dengan keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga dengan berbagai pesan sosial budayanya. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Disisi lain wujud sosial budaya ditunjukkan dalam bentuk bahasa yang digunakan sebagai alat atau perwujudan entitas sosial budaya yang ditandai dengan dialek atau aksentualisasi yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan secara lisan melalui bahasa vokal, lewat tulisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan tinggalan material sosial budaya dapat kita ketahui dari tata dan nilai-nilai kepercayaan lengkap dengan pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologiantropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

Disisi lain dalam perubahan sosial budaya dalam pandangan tradisionil sangat dipengaruhi oleh iklim kebersamaan sehingga ada suatu ikatan emosional atau ada ruang kesadaran kolektive orang mudah untuk mengidentifikasikan diri kedalam identitas sosial mereka. Berwal dari kepentingan politik yang merasuk kedalam sistem perekonomian katakanlah akibat politisasi selama orde baru telah dilakukan generalisasi nilai, tata dan aturan yang sama dan orang begitu mudah terpengaruh sehingga uniformitas tersebut pada akhirnya menjadi suatu ketergantungan yang begitu besar. Begitu juga dalam tingkat lokal orang begitu mudah dipengaruhi oleh type kepemimpinan paternalistik untuk selalu tunduk pada pemimpin lokalnya memaksa perubahan sosial hanya terjadi ditingkat permukaan sehingga tidak menjadi suatu etos budaya tradisionil atau belum menjadi suatu ideologi yang dinamis. Faktor ini pengaruhnya cukup besar misalnya trend bidang ekonomi dalam melakukan suatu usaha semua orang hanyut dalam suatu arus usaha trend sesaat misalnya warung angkringan, warung lesehan, warung telepon, warung cucian, dst semuanya sukses sesaat kemudian semua bangkrut.

Hal terpenting dalam proses perubahan sosial diera globalisasi saait ini adalah perlunya dilakukan evaluasi atas pencapaian hasil perubahan yang dapat dilihat atau diukur sebagai suatu peroman analisa dari waktu ke-waktu. Misalnya berbagai tingkat sesuai dengan pokok kanjian yang menjadi fokus perhatian dalam suatu kajian misalnya tingkat partisipasi dan produksi sosial, tingkat kemampuan meratifikasi dan melaksanakan kebijakan sosial, tingkat partisipasi politik, tingkat mobilitas penduduk, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat kemandirian sosial, tingkat kemiskinan dan kesejahteraan sosial, dst.

Dalam era globalisasi pada saat ini hal yang tidak bisa dihindarkan adakah terjadinya penetrasi budaya sebagai akibat tidak berimbangnya kekuatan sosial dalam sistem sosial budaya. Penetrasi sosial budaya adalah masuknya pengaruh baru suatu nilai-nilai sosial budaya terhadap perilaku sosial budaya lainnya. Dinamika sosial budaya selalu diwarnai dengan kompetisi sosial yang bahkan menimbulkan gesekan berbagai kepentingan (social interest) sehingga terjadi suatu refrensi yang teridentifikasi sebagai nilai-nilai baru yang datangnya dari dalam atau dari luar suatu komunitas tertentu. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara yaitu (1) Penetrasi damai (penetration pasifique) Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli. (2). Penetrasi kekerasan (penetration violante) Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.

Strategi Kebudayaan Dalam Social Diversity

Disadari bahwa pengaruh globalisasi sangat kuat sehingga butuh suatu suasana sosial budaya yang kondusif agar mampu membangun sistem sosial baru yang dinamis lengkap dengan tata nilai, aturan dan pedoman tindakan baru sehingga mampu membentuk kesadaran kolektif sebagai kesatuan gerak secara lintas bidang, lintas budaya. Disini butuh suatu kesadaran sikap untuk terbuka terhadap berbagai perubahan secara conformited bukan dengan menutup diri dan anti perubahan.

Posisi dan peranan perguruan tinggi juga sangat strategis dalam pengembangan kompetensi ilmiah, transformasi sosial sehingga pembangunan sumber daya manusia lebih berbobot sebagai pendekatan baru. Disini diharapkan perguruan tinggi dapat menentukan strategi yang akan dikembangkan oleh perguruan tinggi melalui program pendidikan yang menekankan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan etnik dan keragaman budaya yang hidup yang diimplementasikan pada saat ini atau bukan sosial budaya yang usang dan tidak berlaku lagi pada saat sekarang ini (cultural diversity).

Dalam hal ini butuh berbagai kajian budaya baru dan lengkap sebagai referensi ilmiah pokok misalnya kajian sosial tata nilai, aturan dan tindakan budaya masyarakat jawa, masyarakat batak, masyarakat dayak, masyarakat timor, masyarakat papua dst. Disini butuh suatu pedekatan ilmiah yang konteksnya sesuai dengan tingkat penguasaan sosial budaya mahasiswa (subyek pendidikan) yang akan dituntut untuk membaca dan mengetahui posisi dan arah paham cultural determination.

Sekali lagi tata nilai, aturan dan tidakan sosial budaya dalam suatu masyarakat dalam hal ini butuh suatu refrensi yang baru, sehingga untuk memulai kajian sosial budaya yang dapat dijadikan motive-motive dasar perubahan. Pernah penulis membaca kajian sosial budaya masyarakat dayak yang sangat menarik sekali lengkap dengan berbagai tata nilai, aturan dan tindakan masyarakat dayak, tetapi kalau dilihat dari tata nilai, aturan dan tindakan yang mengatur masyarakat tersebut (hukum) yang berlaku saat ini sudah tidak sesuai lagi misalnya singer (denda/hukuman) dalam angka Rp 5,- atau denda dalam bentuk hewan sebanyak 3 ekor babi yang diterapkan bagi individu (privat) maupun perusahaan (publik) gara-gara menebang pohon sangat tidak sebanding atau bahkan pada saat ini sanksi semacam itu sudah tidak “berharga” lagi. Tetapi idenya menarik (data lengkap) sehingga memungkinkan untuk dilakukan studi komparasi data baru pada saat ini sebagai bahan kajian ilmiah guna memetakan sosial budaya yang mewakili masyarakat dayak. Sosial budaya yang ditempatkan sebagai obyek kajian ilmiah rasanya dapat dikerjakan secara interdisiplin misalnya kajian tata nilai, aturan dan tindakan yang termanifestasikan dalam sistem pengelolaan ekonominya, sistem hukumnya (norma dan sanksi), sistem pengembangan sumber daya manusia (pendidikan), sistem kepemimpinan (tradisionil, peran state), sistem kekerabatan, sistem asimilasi sosial, respons terhadap penterasi budaya, dst. Kelihatannya keragaman sosial budaya perlu ditanggapi oleh keragaman disiplin ilmu di Universitas Kristen Duta Wacana, atau bisa jadi kajian sosial budaya semacam ini dapat menjadi suatu jalinan kerjasama dengan berbagai pihak terkait misalnya pemerintah daerah atau perguruan tinggi setempat.

Paling tidak setiap mahasiswa dari etnis masing-masing perlu diajak untuk melihat secara lebih dekat akan sistem sosial budaya masing-masing sehingga referensi sosial budaya cukup diwakili setiap mahasiswa tersebut dengan eagle yang berbeda (paedagogik, metodik dan didaktik perlu dibahas terpisah). Bila dicermati lebih jauh maka bobot kompetensi mahasiswa akan lebih sesuai (matching) untuk menuntun mereka melakukan peran-peran ilmiahnya sebagai bentuk kontribusi lebih lanjut yang akan diperhatikan banyak pihak terutama bagi pemerintah daerah asal mahasiswa tersebut sesuai dengan tingkat kebutuhan pembangunan daerah setempat.

Kajian sosial budaya ini prospeknya kedepan akan sangat menarik sebagai pola pengembangan sosial diversity di Universitas Kristen Duta Wacana karena akan melibatkan banyak pihak, kalau digarap sungguh-sungguh akan banyak menghasilkan temuan-temuan sosial budaya baru yang bersifat ilmiah baru didalamnya. Apalagi kita sadari banyaknya mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana terdiri dari banyak suku dan latar belakang wilayah di Indonesia. Bukan itu saja kesiapan perguruan tinggi dengan keunggulan komparasinya akan sangat kondusif dalam mempersiapkan sumber daya manusia sebagai bentuk percepatan perubahan secara profesional sesuai dengan bidang ilmu yang mengarah kepada bentuk revolusi sosial budaya sebagai bentuk jawaban konkrit terhadap perubahan global sesuai dengan konteks waktu pada sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: