Study Orsos 2 S1 Theologia

Publikasi Hasil Study orientasi Sosial Mahasiswa 2 S1 Theologia di Perkotaan dari 48 peserta study orientasi sosial yang dapat kita postingkan sbb :

David Prasetyawan

Setelah tergabung dalam tugas lapangan kelompok study orientasi sosial di Perkotaan untuk mencermati masalah kemiskinan terutama masalah anak dan gender, sektor informal dan anak jalanan maka saya, mas robin dan mas anggi memutuskan mendatangi warga di code yang bernama ibu arjo yang berprofesi sebagai pemilik warung makan. Ibu ini adalah seorang janda yang harus menghidupi kedua anaknya yang sebenarnya telah menikah termasuk dengan cucu-cucu namun semuanya masih tinggal disitu juga. Ibu ini menceritakan hidupnya kepada kita dari A sampai Z dari situ banyak sekali cerita yang cukup menarik perhatian saya. Beliau adalah perempuan kuat yang pernah saya temui sebagai pekerja keras untuk survaive diusia senjanya. Dulu waktu suaminya masih hidup mereka saling bahu-mebahu menyekolahkan anaknya dan akhirnya setelah anaknya mentas gantian anaknya yang mati-matian menyekolahkan anak-anak mereka sementara untuk kecukupan kebutuhan hidup maka mereka harus berjuang dengan segala keterbatasannya bahkan termasuk juga dengan rumah/tempat tinggal yang kian waktu kian cukup terasa menyesakkan juga. Namun dia bersyukur karena ada banyak jalan untuk saling menguatkan dan dia tidak memberikan kekangan terhadap hak-hak bagi anak-anaknya.

Begitu juga dengan relokasi rumah sebagian warga yang terkena pelebaran jalan setelah kita kunjungi di RT 18 saya memahami bahwa sebenarnya warga disini cukup bersyukur karena sudah termasuk cukup makmur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya selalu ada peningkatan.  Namun mereka haus akan pembinaan intensif seperti yang sebelumnya pernah dilakukan Pak Totok dkk. Keluarga pak Adi Prayitno sangat merindukan kegiatan sekolah minggu mengingat jumlah anak-anak dilokasi ini cukup banyak dan mendukung dilakukan kegiatan tersebut. Mereka juga sangat merindukan motivasi bisnis seperti yang pernah dilakukan sebelumnya baik secara kelompok maupun individual atau apapun bentuknya, karena spirit seperti ini tidak mereka dapatkan dari orang lain.

Kristin Haning

Lebih tertarik dengan keluarga Darsono yang memiliki 7 anggota keluarga. Ketiga dari lima anak telah menikah dan tinggal bersama mereka sehingga keluarga ini kalau sore/malam penuh diantara mereka ada yang bekerja sebagai tukang parkir di GKJ Sawokembar serta ternak lele /nila. Walaupun pendidikan anaknya terbatas karena droop out SD saja tetapi niat kerjakerasnya tetap tumbuh untuk menghidupi keluarganya.

Begitu juga dengan empati terhadap keluarga Heru yang bekerja sebagai tukang becak dan mengembara di kota yogyakarta beserta istri dan ketiga anak yang masih kecil-kecil. Keluarga ini mengandalkan becak untuk mencari nafkah dan selain mbecak mereka hidup dengan mencari kaleng-kaleng atau plastik bekas untuk menghidupi keluarga dan selalu berpindah-pindah.  Kalau hujan mereka mencari tempat berteduh sedangkan untuk istirahat tidur mereka tidak memiliki tempat yang pasti. Walaupun mereka sendiri risau dan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata mengenai nasib masa depan anak-anaknya namun mereka berharap suatu saat ada yang peduli dengan nasib mereka.

Senang berjumpa dengan anak-anak bersaudara di code mereka Neni (8) dan Sepia (9). Mereka bersekolah kelas 3 dan 4 diceritakan bahwa kedua kakaknya sudah lama meninggal dan orangtuanya bekerja sebagai tukang parkir di Mc Donald dan terkadang memasarkan dagangan Chlorofil sedangkan ibunya bekerja sebagai jasa loundry. Setiap hari mereka telah diajari untuk mandiri saat berangkat maupun pulang sekolah mereka dengan naik angkot . sampai dirumah mereka harus membantu orang tuanya mencuci pakaian mereka sendiri maupun pakaian para pelanggan. Kedua anak ini memiliki cita-cita untuk hidup lebih baik dari kedua orangtuanya.

John Imaneul

Lebih senang mendekati remaja yang bernama Hadi (22) di RT 01 yang berasal dari Wonosari. Selama ini ia bekerja di perusahaan advertising dan design grafis. Disisi lain hadi juga memiliki usaha sampingan ternak lele dan nila yang mampu menyuplai 2 warung nasi yang butuh sekitar 10 Kg dengan harga perkilo Rp 12.500,-. Dalam tata kehidupan bermasyarakat hadi menilai sejauh ini sistem administrasi warga sudah tertata baik dan teratur sehingga warga merasa betah tinggal disini. Sedangkan yang muda lebih maju dan memiliki kelahlian tertentu seperti halnya Hadi yang pandai mengoperasikan komputer dibidang grafis adalah bukti bahwa sebenarnya mereka kalau mendapatka kesempatan yang sama bisa juga maju. Kesempatan untuk maju juga sudah dilakukan antara lain dengan memperoleh bantuan dari departemen perikanan untuk ternak lele dan nila yang semula seharga Rp 600/ekor sekarang benih tersebut dapat diusahakannya sendiri.

Anggie

Percakapan intens antara penulis dengan Ibu Harjo pemilik warung adalah termasuk orang lama yang tinggal dikawasan code. Ia datang ke Yogyakarta sebagai janda beranak 2 setelah sempat transmigrasi dan malah ditinggal pergi suaminya di Sumatra maka ia memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Pada awalnya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga suatu keluarga. Pekerjaannya hilang setelah keluarga majikannya pindah ke tempat lain dan dia menetap di code dan menikah dengan pak Harjo suaminya yang sekarang dan tidak membuahkan anak. Pak harjo bekerja di ban-banan kini mereka hidup dengan tenang dan dapat membiayai sekolah kedua anak mereka. Dibalik keberhasilan mereka dalam mendidik anak mereka yang dikatakan sukses ternyata cukup untuk memikat saudara-saudara mereka dari wonogiri untuk mengadu nasib di yogyakarta. Sehingga jadilah kiri kanan rumahnya adalah warga wonogiri yang bermukim di code.

Nugroho

Mewawancarai ibu Tarmin yang bekerja sebagai penjual nasi sayur di code. Ibu ini sudah bekerja selama 25 tahun tetapi kondisinya tetap saja seperti ini, tetapi keluarga ini mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Suaminya sebelumnya bekerja sebagai tukang becak namun sekarang sudah istirahat. Sekarang keluarga ini mengandalkan pekerjaan dari jualan nasi sayur yang ternyata selalu dicari para konsumen. Awal kedatangan mereka di Code bermula sekitar tahun 1980-an mereka mengadu nasib sebagai pendatang baru yang bekerja sebagai pemulung kerapkali diburu petugas trantib karena dianggap mengotori kota dan setelah ada relokasi hunian binaan Duta Wacana maka mereka naik pangkat menjadi tukang becak sampai tidak kuat lagi mengayuh becak. Mereka bersyukur karena mereka mendapatkan lokasi tempat usaha yang mapan dan tidak pernah bermasalah sehingga dapat menjadi andalan kehidupan mereka. Salah satu anak mereka kini sudah menikah dan yang satu lagi belum bahkan masih sering minta uang jajan kepada orangtuanya.

Penulis juga tertarik dengan masalah code yaitu tumbuhnya lapak-lapak diwilayah code tetapi dikuasai oleh kaum pendatang yang memiliki modal lebih kuat. Mereka setiap malam berjualan dengan memanfaatkan view kawasan code yang ternyata cukup mempesona, namun mereka sendiri cukup tidak mampu berkutik. Sedangkan refleksi kuat terpancar dari kehidupan warga code yang terhimpit oleh biaya kehidupan yang kian melonjak dalam segala hal. Seolah ilmu pengetahuan dan kesadaran sosial menjadi tidak bermakna manakala manusianya tetap jahat karena membuat orang bingung, kalut, kacau dan semakin serakah. Orang tidak lagi memikirkan sesamanya dan orang semakin lupa bahwa semuanya hanya karena mengandalkan duniawinya. Memang nafsu kehidupan tidak dapat ditinggalkan, namun juga harus ingat bahwa manusia itu maklhuk sempurna sekaligus memiliki banyak kekurangan sehingga suatu saat manusia pasti akan sadar untuk mengasihi sesamanya.

Penulis juga menginterview pak Wolo seorang penambal yang sukses yang berasal dari RT 01 selebihnya adalah milik para pemilik modal yang datang dari jakarta, bandung, semarang dll. Mereka biasanya datang sekali-duakali sebulan untuk mengambil keuntungan usaha mereka. Sejauh ini warga banyak bekerja sebagai tukang ban-banan milik usaha banyak orang luar tersebut. Selama ini bantuan udaha untuk warga Code didapatkan dari Bank yang prosesnya dibantu oleh LKPM Pak Totok yang ternyata cukup membantu kehidupan mereka. Pada dasarnya mereka tidak mempunyai masalah dan hambatan yang berarti. Secara umum warga code bekerja disektor informal sebagai penarik becak, pemulung, tukang parkir, jualan keliling maupun dipinggir jalan. Pekerjaan tersebut dikatakan jauh lebih baik karena pada awal sejarah kawasan ini adalah daerah hitam dimana pendatangnya bekerja sebagai pemulung dan gali kemudian setelah direlokasi oleh Romo Mangunwijaya maka menjadi orang seperti sekarang ini, orang yang sadar akan eksistensinya kemudian pak Totok dkk masih terus mendampingi sampai saat ini walaupun tidak seintensif dahulu lagi. Satu refleksi yang mendasari dari keadaan tersebut adalah bahwa kehidupan manusia itu bukan hanya dari duniawi saja tetapi juga dari kehidupan iman spiritualitasnya. Ia meyakini bahwa rejeki itu ada ditangan Tuhan sehingga ia tidak kuatir denga kehidupannya.

Kemudian ia juga tertarik dengan  kehidupan keluarga pariem yang berjualan nasi di code. Ia mengeluh anaknya yang laki-laki tidak bekerja karena setiap bekerja selalu tidak betah sehingga dikeluarkan dari pekerjaan. Tetapi satu andalan dalam kehidupan keluarga ini adalah bahwa kehidupan yang penuh tantangan itu ternyata cukup menarik untuk diresapi dan disyukuri.

Joseph Bangun

Keadaan miskin dan sederhananya warga code membuat kita merasa tersentuh. Tempat lokasi ini sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang penuh dengan keadaan ekonomi dan gemerlapnya kota tetapi manakala kita melihat kampung ini suasananya redup. Begitu juga setelah memasuki kahidupan warganya penulis tertarik dengan kehidupan satu keluarga yang tidak dapat saya ingat namanya tetapi keluarga ini harus bekerja keras untuk dapat menghidupi keluarganya. Betapa berat beban hidupnya karena keluarga ini bertumpu kepada bapak yang bekerja sendirian untuk menghidupi istri dan kedua anak mereka yang masih kecil-kecil. Isterinya tidak mungkin bekerja karena anak mereka tidak dapat ditinggalkan begitu saja sehingga satu pendapatan keluarga harus dipakai untuk mencukupi beaya hidup, biaya sekolah. Walaupun dalam keadaan yang demikian ternyata keluarga ini sangat menghargai perbedaan gender dan hak-hak anak mereka sehingga sampai sejauh ini KDRT tidak pernah terjadi. Orang tua disini berusaha agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik sehingga peran orang tua pada saat anak belajar sekalipun mereka berusaha untuk mendampinginya.

Penulis juga tertarik dengan keluarga Eddy disebelah pemukiman code tepatnya didepan gedung Bimo yang berprofesi sebagai pemulung. Ia mengaku tidak memiliki tempat tinggal dan ia lebih tepat disebut anak jalanan atau gelandangan karenanya ia selalu berpindah-pindah. Pada mulanya ia meninggalkan daerah asalnya dari Tangerang dengan kereta api dan turun di Yogyakarta. Sulit mendapatkan pekerjaan maka ia menjadi pengamen, pemulung dan kalau tidur sekenanya terkadang diemperan toko, di gedung pertemuan yang tidak dijaga atau terkadang dibawah pohon tempat perbincangan ini. Sebenarnya ia sangat kesulitan menghadapi hidup ini bahkan identitas diri-pun tidak dimiliki, dia tidak tahu lagi harus bagaimana dengan kehidupannya nanti, karena untuk sekedar bekerja ditempat orang lain dan dapat dipercaya orang pun susahnya minta ampun. Pada saat ini ia hanya mengandalkan kesabaran, keuletan, dan perjuangan yang keras seperti ibarat mengandalkan pakaian yang dikenakannya yang hanya beberapa lembar agar selalu dapat dipakai untuk masih layak disebut sebagai manusia.

Penulis sempat juga menghampiri keluarga Saidi yang berprofesi sebagai pemilik Usaha Ban-banan di RT 01 Kawasan Code. Dengan demikian kesempatan kami alihkan untuk sekedar mengamati keadaan seputar wilayah tersebut karena kami tidak berkesempatan bertemu dengan bapak Saidi yang sedang sakit stroke. Kesempatan ini kami menemui Ibu Parmi yang berjualan sayur mayur yang tinggal sedikit karena dari pagi biasanya full dagangan dan siang hari dagangannya sudah menipis.  Ibu ini menikah dengan tahun 1988 dan menetap disini karena diperistri suaminya yang bekerja sebagai tukang parkir di sebuah lembaga pendidikan. Keluarga ini memiliki 2 anak yang satu SMA dan yang bungsu masih SD yang secara kebetulan mendapat biasiswa sehingga ia hanya cuklup menyediakan uang untuk membeli buku dan jajan saja. Sejauh ini memang belum pernah mendapatkan bantuan pinjaman modal dari manapun dan bila memang dapat diusahakan maka dia berharap mudah-mudahan semuanya juga dapat.

Dedanimrod Simatupang

Kali ini penulis tertarik dengan keluarga Slamet yang berprofesi sebagai tukang parkir di Galleria Mall dan Mc Donald. Permasalahan gender dan hak-hak anak selalu diutamakan dikeluarga ini sehingga peran bapak suatu saat juga dapat berperan didapur dan begitu pula dengan hak-hak anak maka dapat dikembangkan manakala situasi dan kondisi rumah memungkinkan. Untuk itu selalu perlu ditumbuhkan komunikasi dialogis antara suami-istri dan anak. Kebetulan kedua anaknya adalah puteri maka yang besar kelas 5 dan yang kecil kelas 2 SD secara umum hak asuh, pendidikan mereka terpenuhi. Secara umum memang ekonominya relatif mapan bahkan mereka juga mendapatkan les tambahan, begitu juga pada saat mereka belajar dan kesempatan untuk refresing juga terpenuhi.

Yohanes Dian Alposa

Secara umum model bantuan yang masih dirasakan perlu bagi warga code adalah bantuan pengembangan SDA dan SDM. Begitu ringkasan seluruh peerjalanan pendampingan penulis dengan warga code yang melihat bahwa sebenarnya mereka pada saat ini tidak butuh bantuan dalam arti material tetapi bantuan dalam bentuk dukungan untuk mewujudkan ide-ide mereka. Seperti halnya pada saat saya mengunjungi warga yang saya lupa namanya, warga ini berprogesi sebagai petani ikan melalui sistem keramba, namun kerapkali keramba mereka habis terbawa arus sungai code. Barangkali saja perlu dibuatkan suatu sistem keramba apung yang bilamana terjadi banjir maka keramba ini masih tertambat sehingga tidak hilang terbawa arus tetapi mengapung. Hal ini disadari bahwa memang permintaan warga perkotaan akan ikan tergolong tinggi sehingga sayang sekali bilamana kesempatan ini hilang percuma.

Endhamya Asemenitha

Penulis berkesempatan mewawancarai Ferry (17) yang tinggal di kawasan code bersama adiknya Fera. Ferry bekerja di bengkel ban-banan dari jam 21.00 – 04.00 pagi. Pagi hari ia memilih istirahat sementara kawan seusianya pagi justru mengejar ilmu. Namun tidak bagi Ferry, ia meyakini bahwa untuk sekolah butuh biaya tidak sedikit dan seandainya sudah menyelesaikan sekolah juga pasti akan kesulitan mencari pekerjaan. Untuk itulah maka ia melepaskan jenjang sekolahnya sampai dikelas 3 SMP, bahkan banyak pula kawan-kawan yang sering bertandang di bengkelnya bahwa mereka juga tidak bersekolah karena mereka melihat orang yang bersekolah juga akan memiliki masalah pekerjaan. Dari sini saya dapat menagngkap refleksi bahwa dalam menjalani suatu kehidupan salah satunya adalah bersyukur atas kesadaran diri yang ada pada kita bahwa masih banyak diantara saudara kita yang tidak beruntung namun mereka masih dapat bersuka cita.

Kesempatan berikutnya kami menghampiri lokasi yang berada didepan Gedung Bimo yaitu lokasi yang berbeda masih dikawasan Code yaitu salah satu keluarga yang tidak memiliki rumah tinggal/gelandangan. Hati ini semakin tersentuh manakala melihat satu keluarga disini yang tadi malam tidur dipinggir jalan dibawah pohon dimana pertemuan ini berlangsung. Kebetulan hari ini adalah hari valentine dimana saya masih ada sisa cokelat yang kami berikan untuk ketiga anak mereka yang masih balita. Kebetulan juga disaat pertemuan ini berrlangsung hujan deran mulai mengguyur kami harus mencari tempat berteduh sementara keluarga ini masih tetap tinggal dibecak dengan ditutup plastik kiri-kanan saja. Satu pertanyaan besar saya yang terus menggelayut adalah mengapa mereka menjadi seperti ini, mengapa mereka tidak mendapatkan tempat, mengapa anak-anak balitra mereka juga harus mengalami nasib yang seperti itu sehingga banyak pertanyaan yang pada akhirnya tidak mungkin saya jawab sendirian.

Virgo

Pengamatan sosial di code saya berkesempatan mewawancarai mas Muryadi (24). Disini saya mendapat banyak inspirasi dan kesan mengenai kerasnya kehidupan yang dirasakan warga miskin perkotaan khususnya warga code. Penulis tidak dapat menjawab manakala kita yang harus menghadapi situasi itu dilapangan seperti posisi mereka maka kita mungkin juga akan merasakan hal yang sama bahwa mereka masih memiliki jatidiri sebagai manusia untuk selalu bersyukur dan saling mengasihi sesamanya.

Yohanes Dian Alpasa

Diri Sebagai Hamba

Sosok pemuda dalam padepokan suatu saat belajar mengenai hakekat hidup

Ia tercengang karena menemukan hal baru yang tidak dikenal ditempat asalnya

Sang mahaguru mengajar nara didik dengan menilik rakyat jelata dinegeri makmur tersebut

Untuk melihat ini lho kehidupan ditengah kematian

Komunitas lembah berair diantara tebing-tebing rapuh

Ternyata padat dihuni oleh manusia kaum papa yang hidup alakadarnya

Permenungan sempat berhenti diujung paling dalam

Ternyata keadaan itu sama dengan permenungan hidup pemuda selama ini

Ingin rasanya berbagi dalam ketidakmampuan, ingin menolong dalam keterbatasan

Akhirnya menemukan butiran emas dalam sanubari

Merenungi hidup yang menghamba

Memunculkan new impresion and inspiration for help freedom in living forever

Amin

Virgo

Sering kehidupan seperti menyusuri lorong gelap

Tidak peduli ada apa disitu

Cuek, acuh, egois, semau gue

Seperti seonggokan sampah

Bau menyengat dan menjijikkan

Bayangan gelap telah menjelma menjadi beribu cerita

Marginalisasi dan de-humanisasi

Kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, kriminalisasi dan sebagainya masih gelap

Bukalah mata, cungkil dan tunjukkan

Hamparan didepan menarik rasa

Kehadiranmu, kebersamaanmu akankah berubah menjadi empaty dan simpati

Jangankan hidup seatap, berkunjung saja sudah tidak mau

Jangan pincingkan matamu

Lihatlah mereka menggapai-gapai, menggelepar butuh sentuhanmu

Jangankan kau anggap lupa

Marilah berdoa buat agar jangan tegakan mereka mati dalam senyuman

Mati kaku dan mati kutu

Oh Tuhan…………………

Dimanakah kasihMu…………….

Mengapa semua harus terjadi………….

Semestinya pertanyaan itu tidak muncul tetapi dipertanyakan pada diri kita sendiri

Mengapa kita diam seribu bahasa

Marilah kita akhiri cerita dengan bahagia………………

Keshia

Hidup dengan nafas yang sama

Hidup dengan langit yang sama

Hidup dengan terang yang sama

Hidup dengan pijakan yang sama

Tetapi mengapa nasibnya tidak sama dan harus ada perbedaan

Mari……………

Marilah sadar bahwa kenyataan telah berbicara tentang kehidupan

Beda code beda Indonesia yang makmur kaya raya

Namun banyak tikusnya juga

Code memang code

Siapa mau peduli dengan mereka

Ternyata menjawab cerita saja sulit

Semuanya menjadi refleksi bagi kita jua………..

Rangkuman Umum Dari Pembimbing

1. Refleksi kegiatan telah menghasilkan bentuk orientasi yang tepat bagi mahasiswa, hanya saja masih perlu kejelasan dan keseriusan lembaga terkait dalam sistem pembinaan warga

2. Tingkat kedalaman pelayanan masih perlu diarahkan kepada pengembangan diakonia transformatif yang harus banyak belajar pada fakta pelayanan gereja yang cenderung karitatif dan pelayanan melalui pelembagaan juga terkadang missmatch-miss undercontrol pengurus gereja sehingga justru mengacaukan visi dan misi gereja yang semestinya didasari oleh semangat injil dan kalau perlu dikalukan studi komparasi antara pelayanan diakonia gereja Kristen dengan model pelayanan diakonia gereja Katholik sehingga muatan transformasi visi dan misi sehingga gereja dapat menjadi basis perubahan sosialnya menuju kehidupan sosio kultural

3. perlu dilakukan suatu tata inkulturasi budaya (bukan budaya simbol) tetapi akar budaya barat dan timur yang memilkiki sinergitas baru dalam tata pelayana sosial gereja (tidak melulu mengandalkan pelayanan konvensionalnya), antara lain dengan berjejaring bahwa pelayanan sosial tidak dapat diselesaikan dengan satu disiplin ilmu saja tetapi harus mengarah kepada pelayanan multidisiplin.

4. peran gereja adalah sebagai motor penggerak maka harus dilakukan suatu perubahan mendasar mengenai pembagian tugas dan fungsi pelayanan gereja yaitu marturia, koinonia dan diakonianya secara tegas dan sebaiknya jangan pandeta/pastor centris tetapi harus dibagi kedalam fungsinya masing-masing. disini peran manajerial harus kuat sehingga sebaiknya bertumpu pada fungsi administratifnya termasuk didalamnya adalah manajerial database kekuatan dan kelemahan yang melekat pada institusi dan strategi pelayanannya.

5. Masih perlu dilakukan upaya secara memandang permasalahan bukan dalam batasan pragmatis tetapi perlu dilakukan kajian sistematis dan berkelanjutan baik untuk konteks gereja kota maupun gereja desa.

6. Fakta kemiskinan masih tetap melekat dan akan menjadi pusat perhatian gereja sehingga memikirkan pelayanan yang baik semestinya kita belajar dari konsep diaspora sosial yang telah ditebar oleh Romo Mangunwijaya dan Ignatius Suharyo yang telah mempraktekan diakonia transformatif dalam level makro. Bagus juga dalam pengembangan skala kecil dengan berbasiskan kepada keluarga kristen dan habitusnya untuk melebar kepada pelayanan interdenominasi dan interreligi.

Demikian potret sekilas dari proses orientasi sosial 2010 untuk kita ambil manfaatnya sebaik mungkin, kalau ada salah dan kekurangan selama pendampingan saya hanya dapat menyampaikan terimakasih, selamat melayani.

Responses

  1. aku ga pernah tau kalau tulisan ini akan dimuat di web… aku bersyukur karena bisa membaca perenungan teman2… warga code dan seluk-beluknya masih membekas dalam pikiran dan perjuanganku. saat ini aku belum punya apa2 untuk dipakai sebagai alat memperjuangkan pengentasan kepada mereka. Namun, aku yakin suatu saat, aku akan punya suatu perjuangan khusus untuk mereka…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: