GEREJA TRANSFORMED

Gereja katholik menuju gereja transformed

Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang dengan bimbingan Roh Kudus berupaya menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan/membebaskan diri (Lukas 4:18-19). Mewujudkan Kerajaan Allah berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia, dan mengembangkan kesejahteraan, perdamaian, cinta kasih dan keutuhan ciptaan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang tengah berjuang mengatasi masalah korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil (Matius 5-7).

Gereja memiliki 3 Tugas utama yaitu koinonia, marturia dan diakonia yang merupakan ke-khas-an tersendiri yang sangat menarik untuk kita cermati bersama sebagai bagian dari tugas panggilan gereja dalam menanggapi perubahan dunia. Ketiganya mustahil dikerjakan oleh peran para pastor karena mereka juga memiliki keterbatasan dan peran mereka juga patut dijaga dalam bingkai dalam tata pelayanan yang digariskan oleg gereja. Dalam menterjemahkan hal tersebut maka perlu dijabarkan dalam bentuk pembagian tugas gereja yang bervisi dan bermisi semangat injil untuk pembebasan (kontekstualisasi dari pemahaman theologia pembebasan), maka diharapkan jemaat juga memiliki kerangka visi dan misi yang sama. Semangat itu perlu dikembangkan dalam aras struktural sebagai bentuk perubahan kultural yang selama ini terbingkai rapi se-sakral nilai ajaran yang dikembangkan gereja selama ini, sementara perubahan global sudah meluas menuntut adanya keharmonisan dalam implementasi ajaran gereja yang baru (kontekstualisasi pelayanan gereja masa kini). Adalah baik melakukan tugas sesuai dengan garis kebijakan yang ada tetapi rasanya tidak cukup segala sesuatunya dilakukan oleh organisasi gereja. Disini butuh wadah pelayanan yang merupakan perpanjangan tangan pelayanan gereja melalui suatu organisasi atau semacam NGO/LSM yang dibawah kontrol dan tanggung jawab gereja. Pilihan ini semakin menguatkan pada semakin besarnya tuntutan pelayanan jemaat yang ternyata semakin luas dan semakin kompleks sehingga butuh pekanjangan tangan pelayanan yang definitif.

Habitus Baru tidak lain merupakan suatu bentuk gereja oikumenes (gereja yang menyatu dengan lingkungannya) yang artinya gereja yang kehadirannya tanpa sekat tata aturan dan struktural yang dapat diterima oleh semua orang disekitarnya. Jelas pandangan ini sangat bagus karena arahnya cukup jelas untuk menjadikan gereja sebagai suatu institusi yang inklusif (terbuka dan mau membuka dirinya) sehingga ada interaksi yang positif dalam pembangunan nilai-nilai kemanusiaan sesuai pada proporsinya. Sedangkan dalam pandangan leimena hal ini dipandang sebagai bentuk nasionalism intereligius yang harmonis dan jelasnya dalam pandangan orang indonesia masih terbingkai ideologi pancasila (ideologi yang mampu mempersatukan berbagai perbedaan). Jelas, mengharapkan buffer (bumper) pancasila saja tidaklah cukup karena untuk mempengaruhi kesadaran dan image publik butuh proses dalam bentuk inkulturasi budaya. Dengan demikian maka akan mengarah kearah culturasl determinity atau budaya sebagai faktor penentu di masa depan. Artinya tanpa perlu pemaksaan kehendak dan ajakan untuk mempengaruhi orang lain maka sesuatu yang baik akan mendapatkan respons positif dari sesama umat manusia untuk melemahkan terjadinya polarisasi kekuatan negatif atau sensitifitas konflik yang dapat menyeret kearah konflik antar ideologi yang dipahami secara keliru selama ini.

Merupakan bentuk kesadaran baru yang sudah lama dinantikan sekaligus alternatif baru yang digariskan dalam arah dasar pembangunan jemaat keuskupan agung semarang yang dibangun bersama-sama dengan jemaat mulai dari lingkungan keluarga dengan menjadikannya sebagai basis hidup beriman, dalam diri anak, remaja, dan kaum muda dengan melibatkan mereka untuk pengembangan umat; dalam diri yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dengan memberdayakannya. Dengan demikian sudah saatnya gereja tidak lagi memikirkan dirinya sendiri tetapi juga perlu memikirkan berbagai komunitas disekitarnya. Untuk mendukung upaya tersebut, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman, melibatkan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerjasama dengan semua yang berkehendak baik, dan melestarikan keutuhan ciptaan. Bentuk-bentuk pola pelayanan inilah yang diharapkan menjadi cikap bakal merebaknya paham oikumenes (gereja yang menyatu dengan lingkungannya).

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus hati bertekad bulat melaksanakan dan mewujudkan upaya tersebut dengan mempercayakan diri pada penyelenggaraan Ilahi dengan setia dan rendah hati seturut teladan penyelenggara gereja masa lalu yaitu keteladanan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja. Sekiranya Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya dengan baik pula (Flp 1:6).

Gerakan oikumenes menjelang pra-paskah 2010 dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui pembahasan masa persiapan Aksi Puasa Pembangunan menjelang paskah 2010 dengan melakukan pembahasan seputar masalah yang dihadapi jemaat, gereja dan lingkungan sekitarnya. Jemaat dituntut untuk menjadi saksi Kristus pada saat sekarang ini. Secara organisatoris juga dilangsungkan melalui lokakarya sehari di Gereja Brayat Minulyo yang diikuti oleh sekitar 160 utusan dari berbagai wilayah dan lingkungan diwilayah Paroki Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran. Respons yang diberikan cukup mantap dimana ada aspirasi yang tertangkap ibarat “Gayung Bersambut” dimana respons penyelenggara dan peserta merasa mendapatkan kelegaan besar. Karena pertanyaan besar selama ini cukup terfasilitasi dengan baik dalam arti kata tidak ada sedikitpun hal yang menyakitkan pihak lain karena proses dialektik tetap berjalan dengan baik dan terpaksanya harus bongkar-sana bongkar-sini semuanya masih dalam wadah perwujudan iman dan kasih. Pada kesempatan ini pula dilakukan penyegaran bersama Romo Warsito Pr selaku pengurus gereja Paroki Pugeran dan Ibu Diah yang memberikan motivasi entepreneurship dan suporting sistem program kewirausahaan dalam bentuk pelatihan, konsultasi dan pemasarannya. Kepada beliau berdualah awal komunikasi ini dapat diuraikan panjang lebar untuk direkomendasikan dan diimplementasikan dalam tata pelayanan gereja menjadi lebih baik. Sukses dan selamat melayani kiranya Tuhan yang akan membalas kebaikan hati Romo, Bapak dan Ibu saudara sekalian.

Melalui momentum yang dikemas pas………rasanya tidak ada kata yang bisa terucap kecuali Terimakasih Tuhan………. Aleluyah………………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: